Jayalah Pramuka Indonesia

Junjung Tinggi Dasa Darma...Tepati Janji hidup satya dama

slide

Selasa, 24 Mei 2011

SMK Model Patriot Peta

Pendahuluan

Sebagai orang yang dekat dengan alam, pengetahuan mengenai peta, kompas serta penggunaannya mutlak harus dimiliki. Perjalanan ketempat-tempat jauh dan tidak dikenal akan lebih mudah. Pengetahuan bernavigasi darat ini juga berguna bila suatu saat tenaga kita diperlukan untuk usaha-usaha pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan arau tersesat digunung dan hutan, serta bencana alam. Navigasi darat adalah penentuan posisi dan arah perjalanan baik dimedan sebenarnya maupun dipeta. Oleh sebab itu, pemahaman kompas dan peta serta teknik penggunaannya harus dipahami.

Peta
Secara umum, peta dinyatakan sebagai penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau seluruh permukaan bumi yang dilihat dari atas, dan diperkecil atau diperbesar dengan perbandingan tertentu. Peta sendiri kemudian berkembang sesuai kebutuhan dan penggunaannya. Untuk keperluan navigasi darat, umumnya dipakai Peta Topografi.
Peta Topografi (Rupabumi)
Kata topografi berasal dari bahasa yunani, topos yang berarti tempat dan graphi yang berarti gambar.


Peta topografi memetakan tempat-tempat di permukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk-bentuk garis kontur. Satu garis kontur mewakili satu ketinggian. Pada peta topografi disertakan pula berbagai keterangan yang akan membantu mengetahui secara lebih jauh mengenai daerah permukaan bumi yang terpetakan.
a. Judul Peta Judul peta terdapat pada bagian atas tengah peta. Judul peta penyatakan lokasi yang ditunjukan oleh peta yang bersangkutan. Lokasi berbeda maka judul berbeda pula.
b. Nomor Peta
Nomor peta biasanya dicantumkan disebelah kanan atas peta. Selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, nomor peta juga berguna sebagai petunjuk bila kita memerlukan daerah lain disekitar daerah yang dipetakan. Biasanya bagian bawah disertakan juga indeks nomor yang dicantumkam nomor-nomor peta yang ada disekeliling peta tersebut.
c. Koordinat Peta
Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yaitu garis yang saling berpotongan tegak lurus. Sistem koordinat yag resmi dipakai ada dua, yaitu :
  1. Koordinat Geografis (geographical Coordinate); Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (Bujur Barat dan Bujur Timur) yang tegak lurus dengan khatulistiwa, dan garis lintag (Lintang Selatan dan Lintang Timur) yang sejajar dengan khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit, dan detik.
  2. Koordinat Grid (grid Coordinate atau UTM); Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap suatu titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan nol ini terletak disebelah Barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari Selatan ke Utara, sedangkan garis horizontal diberi nomor urut dari Barat ke Timur.
Sistem koordinat mengenal penomoran dengan 4 angka untuk daerah yang luas atau 6 angka untuk daerah yang lebih sempit.
d. Kontur
Kontur adalah adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik sama dari muka laut.
e. Skala Peta
Skala peta adalah perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak horizontal pada lapangan.
1. Skala Angka

Contoh :
1 : 25.000 berarti 1 cm jarak dipeta = 25.000 cm (250 m) jarak horizontal di medan sebenarnya.
1 : 50.000 berarti 1 cm jarak dipeta = 50.000 cm (500 m) jarak horizontal di medan sebenarnya

2. Skala Garis
Contoh :

f. Tahun Peta
Peta topografi juga memuat keterangan tentang tahun pembuatan peta tersebut. Semakin baru tahun bembuatanya, maka data yang disajikan akan semakin akurat.
g. Arah Peta
Yang perlu diperhatikan adalah arah Utara peta. Cara paling mudah yaitu dengan memperhatikan arah huruf-huruf tulisan yang ada pada peta. Arah tulisan adalah arah Utara peta. Pada bagian bawah peta biasanya juga terdapat petunjuk arah Utara peta, arah sebenarnya, dan utara magnetis. Untara sebenarnya menunjukan arah utara kutub bumi. Kutub utara megnetis menunjukan Kutub Utara magnetis bumi. Kutub utara magnetis bumi terletak tidak bertepatan dengan kutub utara bumi, kira-kira disebelah utara Kanada, di Jasirah Boothia. Karena pengaruh rotasi bumi, letak kutub magnetis bumi bergeser dari tahun ketahun. Utara magnetis adalah utara yang ditunjukan oleh jarum magnetis kompas. Untuk keperluan praktis utara peta, utara sebenarnya dan utara magnetis dapat dianggap sama.

Untuk keperluan yang lebih teliti, perlu dipertimbangkan adanya Ikhtilap peta, Ikhtilap magnetis, Ikhtilap peta magnetis dan variasi magnetis.
  1. Ikhtilap Peta; Adalah beda sudut antara Utara sebenarnya dengan utara peta. Ini terjadi karena perataan jarak paralel garis bujur peta bumi menjadi garis koordinat vertikal yang digambarkan pada peta.
  2. Ikhtilap Magnetis; Adalah beda sudut antara utara sebenarnya dengan utara magnetis
  3. Ikhtilap Peta Magnetis; Adalah beda sudut antara utara peta dengan utara magnetis bumi.
  4. Variasi Magnetik; Adalah perubahan/pergeseran letak kutub magnetic bumi pertahun

h. Legenda Peta
Legenda peta biasanya disertakan pada bagian bawah peta. Legenda ini memuat simbol-simbol yang dipakai pada peta tersebut. Yang penting diketahui : triangulasi, jalan setapak, jalan raya, sungai, desa dan pemukiman, dll.

MEMBACA PETA
a. Sifat-sifat Garis Kontur
Yang terpenting dalam bernavigasi adalah kemampuan menginterpretasikan peta, yaitu kemampuan membaca peta dan membayangkan keadaan medan sebenarnya. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa sifat garis kontur, sebagai berikut :
  • Garis kontur dengan ketinggian yang lebih rendah selalu mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi, kecuali bila disebutkan khusus hal-hal tertentu serta kawah.
  • Garis kontur tidak pernah saling berpotongan.
  • Beda ketinggian antara dua garis kontur adalah tetap walaupun kerapan kedua garis berubah.
  • Daerah datar mempunyai kontur jarang-jarang, sedangkan daerah terjal/curam mempunyai kontur rapat.
b. Ketinggian Tempat.
Menentukan ketinggian suatu tempat dapat dilakukan dengan dua cara . cara pertama : lihat interval kontur peta, lalu hitung ketinggian tempat yang ingin diketahui. Memang ada ketentuan umum : interval komtur = 1/2000 skala peta, tetapi itu tidak selalu benar. Beberapa Topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung aslinya berskala 1 : 50.000 (interval kontur 25 m) kemudian diperbesar menjadi skala 1 : 25.000 dengan interval kontur tetap 25m.
Dalam operasi SAR digunung hutan misalnya, sering peta diperbesar dengan cara diphotocopy. Untuk itu interval kontur harus tetap ditulis. Peta keluaran Bokosurtanal (1 : 50.000) membuat kontur tebal untuk tiap kelipatan 250 m (kontur tebal untuk ketinggian 750, 1000, 1250 m, dst) atau setiap selang 10 kontur. Seri peta keluaran AMS (skala 1 : 50.000) membuat garis kontur untuk setiap kelipatan 100 m (missal 100, 200, 300 m, dst). Peta keluaran Diktorat Geologi Bandung tidak seragam untuk penentuan garis konturnya. Jadi tidak ada ketentuan khusus dan
seragam untuk menentukan garis kontur tebal.
Bila ketinggian kontur tidak dicamtumkan, maka harus dihitung dengan cara :
  1. Cari 2 titik berdekatan yang harga ketinggiannya tercantum.
  2. Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa kontur yang terdapat antara keduanya (jangan menghitung kontur yang sama harganya bila kedua titik terpisah oleh lembah).
  3. Dengan mengetahui selisih ketinggian dua titik tersebut dan jumlah kontur yang terdapat, dapat dihitung berapa interval konturnya (harus merupakan bilangan bulat ).
  4. Lihat kontur terdekat dengan salah satu titik ketinggian (bila kontur terdekat itu berada di atas titik, maka harga kontur itu lebih besar dari titik ketinggian. Bila kontur berada di bawahnya, harganya lebih kecil). Hitung harga kontur terdekat itu yang harus merupakan kelipatan dari harga interval kontur yang telah diketahui dari(3).
Lakukan perhitungan di atas beberapa kali sampai yakin harga yang didapat untuk setiap kontur benar. Cantumkan harga beberapa kontur pada peta Anda (kontur 1000,1250,1500, dan sebagianya) agar mudah mengingatnya.

c. Titik Triangulasi
Selain dari garis-garis kontur, kita dapat juga mengetahui tingginya suatu tempat dengan pertolongan titik ketinggian. Titik ketinggian ini biasanya disebut titik triangulasi, yaitu suatu titik atau benda berupa pilar/tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Titik triangulasi digunakan oleh jawatan-jawatan atau topografi untuk menentukan suatu ketinggian tempat pada waktu pembuatan peta.

d. Mengenal Tanda Medan
Disamping tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta topografi kita biasa menggunakan bentuk atan bentangan dalam yang menyolok dilapangan dan mudah dikenali dipeta, yang kita sebut sebagai tanda medan. Beberapa tanda medan dapat anda “baca” dari peta sebelum berangkat kelokasi, tetapi kemudian anda harus cari lokasi dan dicocokkan di peta.
  • Puncak gunung atau bukit, pegunungan, lembah antara dua puncak, dan bentuk-bentuk tonjolan yang mencolok.
  • Punggung gunung/bukit terlihat dipeta sebagai rangkaian kontur berbentuk “U” yang ujungnya melengkung menjauhi puncak.
  • Lembah dipeta terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk “V” yang ujungnya tajam dan menjorok kearah puncak.
  • Sadlle, daerah rendah dan luas terdapat antara dua ketinggian yang tidak terlalu ekstrim.
  • Col, merupakan daerah rendah dan sempit yang terdapat antara ketinggian.
  • Pass, merupakan celah yang memanjang yang membelah suatu ketinggian.
  • Lembah yang curam, sungai, pertemuan anak sungai, kelokan, tebing-tebing ditepi sungai.
  • Belokan jalan, jembatan (perpotongan sungai dengan jalan), ujung desa, simpang jalan.
  • Bila berada dipantai, muara sungai dapat menjadi tanda medan yang sangat jelas, begitu juga tanjung yang yang menjorok kelaut, teluk-teluk yang menyolok, pulau-pulau kecil, delta, dan sebagianya.
  • Didaerah daratan atau rawa-rawa biasanya sukar mendapat tonjolan permukaan bumi atau bukit-bukit yang dapat dipakai sebagai tanda medan. Pergunakan belokan-belokan sungai, muara-muara sungai kecil.
  • Dalam menyusuri sungai, kelokan tajam, cabang sungai, tebing-tebing, deta, dan sebagianya, dapat dijadikan tanda medan.
  • Pengertian tanda medan ini mutlak dikuasai. Akan selalu digunakan pada uraian selanjutnya tentang teknik peta kompas.
Kompas

Guna Kompas
Kompas adalah alat petunjuk arah. Karena sifat kemagnetannya, jarum kompas akan selalu menunjuk arah Utara-Selatan (jika tidak dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya magnet lain selain magnet bumi). Tetapi perlu diingat bahwa arah yang ditunjukan oleh jarum kompas tersebut adalah arah Utara Magnetis bumi. Jadi bukan utara bumi sebenarnya.

Bagian-bagian kompas
Secara fisik, kompas terdiri dari :
  • Badan,tempat komponen-koponen kompas lainnya berada.
  • Jarum, selalu menunjukan arah Utara - Selatan pada posisi bagaimanapun (dengan syarat, kompas tidak dipengaruhi oleh medan magnet lain dan jarum tidak terhambat perputarannya).
  • Skala Petunjuk, menunjukan pembagian derajat sistem mata angin.
Jenis-jenis Kompas
Banyak macam kompas yang dapat dipakai dalam suatu perjalanan. Pada umumnya dipakai dua jenis kompas, yaitu kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orienteering (misal kompas silva). Kompas bidik mudah untuk membidik, tetapi dalam pembacaan dipeta perlu dilengkapi dengan busur derajat dan penggaris (segitiga). Kompas silva kurang akurat jika dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu dalam pembacaan dan perhitungan peta.kompas yang baik pada ujung jarumnya dilapis fosfor agar dapat terlihat dalam keadaaan gelap.

Pemakaian Kompas
Kompas dipakai dengan posisi horizontal sesuai dengan arah garis medan magnet bumi. Dalam pemakaian kompas pelu dijauhkan dari pengaruh-pengaruh benda-benda yang mengandung logam seperti pisau, golok,karabiner, tiang benda, jam tangan,dll. Benda-benda tersebut akan mempengaruhi jarum kompas sehingga ketepatannya akan berkurang.
Teknik Peta Kompas
Orientasi Peta
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (secara praktis, menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada dilokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama-nama gunung, bukit, sungai ataupun tanda-tanda medan lainnya. Atau dengan mengamati kondisi bentangan alam yang terlihat dan mencocokkannya dengan gambaran kontur yang ada di peta. Untuk keperluan praktis, utara kompas (utara magnetis)dapat dianggap satu titik dengan utara sebenarnya, tanpa memperhitung adanya deklinasi. Langkah-langkah orientasi peta :
  • Cari tempat yang pemandangannya terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok.
  • Letakkan peta pada bidang datar.
  • Samakan utara peta dengan utara kompas, dengan demikian letak peta akan sesuai dengan bentangan alam yang dihadapi.
  • Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekeliling dan temukan tanda-tanda tersebut didalam peta. Lakukan untuk beberapa tanda medan.
  • Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan sebenarnya maupun dipeta. Ingat hal-hal yag khas dari setiap tanda medan.
Resection
Prinsip resection : menentukan posisi kita dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik resection membutuhkan alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak seluruh tanda medan harus dibidik, jika kita sedang berada ditepi sungai, sepanjang jalan, atau sepanjang suatu punggungan, maka hanya perlu mencari satu tanda medan lain yang dibidik.
Langkah-langkah resection :
  • Lakukan orientasi peta
  • Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal dua buah.
  • Dengan busur dan penggaris, buat salip sumbu pada tanda-tanda medan tersebut.
  • Bidik tanda medan tersebut dari posisi kita.
  • Pindahkan sudut bidikan yang didapat kepeta, dan hitung sudut pelurusnya
  • Perpotongan garis yang ditarik dari sudut pelurus tesebut adalah posisi kita dipeta.


Intersection
Prinsip intersection : menentukan posisi suatu titik (benda) dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai. Pada intersection, kita harus sudah yakin pada posisi kita dipeta.
Langkah-langkah melakukan intersection:
  • lakukan orientasi, dan pastikan posisi kita
  • bidik objek yang kita amati.
  • Pindahkan sudut yang didapat dipeta
  • Bergerak keposisi lain, dan pastikan posisi tersebut dipeta. Lakukan langkah 2 dan 3
  • Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi objek yang dimaksud.

Azimuth – Back Azimuth
Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Bila kita bejalan dari satu titik ketitik lain dengan sudut kompas yang tetap (istilah populernya “potong kompas”), maka harus diusahakan agar lintasannya berupa satu garis lurus.untuk itu digunakan teknik back-azimuth.
Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikkan kompas muka dan ke belakang pada jarak tertentu. Langkah-langkah :
  • Titik awal dan titik akhir perjalanan diplot dipeta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung juga sudut dari titik akhir ke titik awal., kebalikan arah perjalanan. Sudut yang terakhir ini adalah sudut back-azimuth.
  • Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan (pohon besar, pohon tumbang, longsor tebing, susunan pohon khas, ujung kampung, dan sebagianya.
  • Bidik kompas sesuai dengan arah perjalanan kita (sudut kompas). Perhatikan tanda medan lain diujung lintasan yang akan dilalui pada arah itu.
  • Setelah sampai pada titik medan itu, bidik kompas kembali kebelakang (sudut back-azimuth) untuk mencek apakah anda berada pada lintasan yang diinginkan. Bergeserlah kekiri atau kekanan untuk mendapatkan “back-azimuth yang benar”
  • Sering kali tidak ada tanda medan yang dijadikan sasaran. Dalam hal ini anda seorang rekan dapat berfungsi sebagai tanda tersebut.


Analisa Perjalanan
Analisa perjalanan perlu dilakukan agar kita dapat membayangkan kira-kira medan yang akan dilalui, denan cara mempelajari peta yang dipakai. Yang perlu dianalisa adalah jarak, waktu, dan tanda-tanda medan.
1. Jarak
Jarak diperkirakan dangan menganalisa dan mempelajari peta. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jarak sebenarnya yang ditempuh bukanlah jarak horizontal. Kita dapat memperkirakan jarak (dan kondisi medan) lintasan yang akan ditempuh dengan memproyeksikan lintasan, kemudian mengalikan dengan skala untuk memperoleh jarak sebenarnya.
2. Waktu
Bila sudah dapat memperkirakan jarak, selanjutnya kita harus memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Ada teori klasik untuk memperkirakan waktu tempuh ini, yaitu Hukum Naismith (lihat Ilmu Penaksiran)
3. Tanda Medan
Cari dan ingat tanda-tanda medan di peta yang mungkin bisa menjadi pedoman dalam menempuh perjalanan.
4. Medan Tidak Sesuai Peta
Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan bahwa petanda salah. Memang banyak sungai-sungai kecil yang tidak tergambar dipeta, karena sungai itu kering dimusim panas. Ada kampung yang sudah berubah, jalan setapak yang hilang, dan banyak perubahan-perubahan lainnya yang mungkin terjadi.
Bila anda menjumpai ketidak sesuaian antara peta dengan kondisi dilapangan, baca kembali peta dengan lebih teliti, cari tanda-tanda medan yang bisa dikenali. Jangan hanya terpaku pada satu gejala yang tidak ada dipeta sehingga hal-hal lainyangdapat dianalisa akan terlupakan.
Kalau terlalu banyak hal yang tidak sesuai, kemungkinan besar anda yang salah (mengikuti punggungan yang salah, menyusuri sungai yang salah, atau salah dalam melakukan resection). Peta topografi 1 : 25.000 atau 1 : 50.000 umumnya cukup teliti.

ALTIMETER
Altimeter merupakan alat pengukur ketinggian yang bisa membantu menentukan posisi. Pada medan yang bergunung tinggi kompas sering tidak banyak digunakan, altimeter akan lebih berperan dalam perjalanan. Yang harus diperhatikan dalam pemakaian altimeter :
- Setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi. Periksa ketelitian altimeter di titik-titik ketinggian yang pasti.
- Altimeter sangat sensitive terhadap guncangan, cuaca, dan perubahan temperature.


Menentukan Arah Tanpa Kompas
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menetukan arah apabila kompas tidak tersedia atau tidak dapat berfungsi :
1. Dengan tanda-tanda alam
Misalnya :
Kuburan Islam menghadap keutara
Mesjid menghadap kiblat, untuk Indonesia menghadap kebarat laut.
Bagian pohon yang berlumut tebal menunjukan arah timur, karena sinar matahari yang belum terik pada pagi hari.
2. Dengan bayangan
Ada dua cara, keduanya dapat dipakai kapan saja selama ada cahaya matahari .
  • Pada lokasi datar dan terbuka, tancapkan tongkat (sekitas 1 meter) kedalam tanah, usahakan selurus mungkin. Tandai bayangannya sebagai satu titik. Tunggu sekitar 15 menit, dan tandai lagi bayangan yang baru. Hubungkan antara kedua titik, dan baris ini menunjukan arah barat (titik pertama) dan timur (titik kedua). Arah utara dapat ditentukan dari arah barat dan timur .
  • Cara kedua menghasilkan arah yang lebih teliti, tetapi memerlukan waktu yang lebih lama. Sama seperti cara sebelumnya, namun tanda bayangan pertama didapat dipagi hari. Gambarkan busur dari titik tersebut dengan tongkat sebagai pusatnya. Pada siang hari bayangan akan memendek dan memanjang kembali pada sore hari. Garis antara kedua titik tersebut menunjukan arah barat (titik pada pagi hari) dan timur (pada titik sore hari)
3. Dengan Perbintangan
- Perhatikan arah bulan , bintang dan matahari yang terbit dari timur dan terbenam dibarat.
- Perhatikan rasi bintang crux (Bintang Salip atau Gubug Penceng). Perpanjangan garis diagonal yang memotong horizon dari tempa kita adalah selatan.

Tempat Memperoleh Peta Topografi
Saat ini ada 3 instansi yang dapat mengeluarkan peta topografi untuk masyarakat umum, yaitu :
  1. Direktorat Geologi Jalan Diponegoro No. 57 Bandung; Direktorat Geologi merupakan beberapa seri peta topografi yaitu : peta buatan Dinas Topografi Belanda (Topografische Dienst, Batavia dan Topografische Inliching, Batavia) hasil pemetaan tahun 1920-an.
  2. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakorsurtanal) di Cibinong, Jawa Barat. Bakorsurtanal menerbitkan peta topografi seri tersendiri yang dibuat tahun 1970-an, dan merupakan peta berwarna. Peta Sumatera 1 : 50.000 berwarna hampir seluruhnya selesai. Untuk Jawa akan diterbitkan peta 1 : 25.000 berwarna, namun baru sampai daerah ujung kulon. Irian 1 : 100.000 bekerjasama dengan Australia dan Inggris, berwarna.
  3. Pusat Survey dan Pemetaan TNI (PUSURTA), mempunyai dan membuat peta topografi yang rinci. Permohonan harus menggunakan izin khusus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar